Saturday, August 22, 2009

MEGA KUNINGAN

Saya sedang menonton CNN ketika muncul stop press tentang pemboman dua hotel di Mega Kuningan, Jakarta. Saya jadi teringat akan kejadian beberapa bulan sebelumnya, pemboman hotel di kota Mumbai (d/h Bombay) India. Pelaku pemboman di Jakarta, sampai tulisan ini kelar, belum tertangkap. Tetapi, di jejaring Facebook, juga komentar-komentar yang mengekor rentetan berita di koran-koran online, kebanyakan adalah sumpah serapah dan ungkapan dendam pada si pelaku pemboman.

Mari kita berdoa bersama agar keluarga korban memperoleh kekuatan hati untuk ikhlas dan tidak diguyur dendam, serta para pelakunya ikhlas menjalani ‘proses’ yang tengah dirancang Tuhan untuk mereka.

***

Beberapa tahun lalu, salah seorang murid saya diserang remaja lain di depan sebuah mal di Bandung. Remaja itu melompat dari atas pagar dan mendarat tepat di punggung murid saya yang akhirnya terkapar di jalan. Setelah mengalami koma selama dua hari, ia berangsur-angsur pulih. Namun sampai kini parut di wajahnya dan tremor yang sering menyerangnya bagaikan pengingat akan peristiwa traumatis itu.

Remaja penyerang itu dengan mudah tertangkap tangan, digelandang ke kantor polisi. Dan di sanalah saya bertemu dengan ayah angkatnya – yang kebetulan adalah pimpinan sebuah aliran bela diri baru. “Apa yang dilakukan anak saya memang menyeramkan, tetapi saya belum selesai mendidiknya. Saya belum selesai mengasuhnya.” Begitulah pengakuan sang bapak angkat.

Tuhan akan mengatakan hal yang sama mengenai orang-orang yang menyerang Anda. “Apa yang dilakukannya memang tak masuk akal, tak bisa diterima, dan tak termaafkan. Tetapi Aku belum selesai dengannya.”

Musuh-musuh Anda masih dalam proses terbentuk di tangan Tuhan. Tuhan belum (tepatnya: tidak pernah) menyerah atas diri mereka. Mereka mungkin sudah keluar dari kehendak Tuhan, tetapi bukan berarti mereka sudah di luar jangkauan Tuhan. Anda sungguh memuliakan Tuhan jika memandang musuh-musuh Anda bukan sebagai produk gagal, melainkan sebagai projek Tuhan yang masih tengah berjalan.

Tuhan menduduki satu-satunya kursi di pengadilan surga. Ia yang mengenakan jubah hakim dan menolak untuk berbagi palu. Karena itulah Paulus menulis, “Jangan nekad untuk membalas dendam. Balas dendam bukan hal yang perlu kau lakukan. ‘Akulah yang akan menghakimi,’ tegas Tuhan. ‘Aku yang mengurus semuanya.’” (Roma 12:19).

Balas dendam hanya mengusir Tuhan dari rumus. Anda hendak menyisihkan dan menggantikan tempat Tuhan. “Aku tidak yakin Engkau bisa menangani yang satu ini, Tuhan. Kamu sepertinya menghukum terlalu ringan, juga terlalu pelahan. Aku akan mengambil alih masalah ini ke dalam tanganku sendiri.”

Aapakah itu yang ingin Anda katakan kepada Tuhan? Yesus tidak. Tidak seorang pun yang punya pandangan gamblang tentang benar dan salah daripada Anak Tuhan yang sempurna. Meskipun begitu, “Ketika Ia menderita, Ia sama sekali tidak mengancam, tetapi menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang mengadili dengan adil.” (1 Petrus 2:23)

Hanya Tuhan yang bisa menilai dengan pertimbangan yang akurat. Kita menerapkan hukuman terlalu ringan atau terlalu berat. Tuhan memberikan keadilan sempurna. ‘Balas dendam’ adalah pekerjaanNya. Serahkan musuh-musuh Anda ke dalam tangan Tuhan.

Anda bisa membenci apa yang dilakukan seseorang, tanpa harus membiarkan kebencian itu merusak diri Anda sendiri. Memaafkan bukanlah melepaskan.

Memaafkan juga bukanlah kepura-puraan. Daud tidak menutupi kesalahan atau menyisihkan dosa Saul. Ia mengatasinya secara langsung. Ia tidak menghindari persoalannya, tetapi ia memang menghindari Saul.

Lakukan hal yang sama. Berikan pengampunan, tetapi jika dibutuhkan, ambillah jarak. Anda bisa memaafkan suami yang suka memukul, tanpa harus hidup bersama dengannya. Bersegeralah memaafkan pendeta yang tak bermoral, namun berlambatlah memberinya kesempatan ke atas mimbar lagi. Masyarakat bisa menyalurkan ampunan dan penjara pada saat yang sama. Beri kesempatan kedua kepada penista anak, tetapi jauhkan mereka dari taman bermain.

Memaafkan bukanlah kebodohan.

Memaafkan, pada intinya, adalah memilih untuk melihat musuh anda dengan sepasang mata yang berbeda. Anda tidak membebaskannya, menyokongnya, atau merangkulnya. Anda hanya mengarahkan segala pikiran tentang dirinya melalui surga.Anda melihat musuh Anda sebagai anak Tuhan dan balas dendam sebagai karya Tuhan.

Beranikah kita meminta pengampunan Tuhan kalau kita menolak memberikannya? Ini sungguh persoalan besar di dalam Alkitab. Yesus keras hati terhadap para pendosa yang menolak memaafkan para pendosa lainnya. Pada akhirnya, kita memaafkan karena kita telah diampuni. DB

Thursday, August 20, 2009

TUHAN

Hujan menderai di tubir genteng. Seorang anak lelaki memandangi halaman samping: gelaran rumput hijau yang kini seluruh permukaannya telah basah, bunga kertas warna merah dan kuning di pinggiran taman yang seperti anak yang tak mau mandi – tetap kering, dan setiap hunjaman setiap tetes hujan ke genangan air yang menimbulkan percikan – bagaikan pedang ksatria bertemu dengan tameng musuhnya. Didekatkannya kepalanya ke jendela dan matanya berusaha memandang langit yang sebagian hitam dan sebagian mendung telah tersibak. Ia tersenyum.
Tiba-tiba ia tersentak, dan meninggalkan ‘pos pengamatan’ yang telah ia huni selama lebih dari sepuluh menit itu. Berlari-lari kecil ia menuju ke kamarnya, bergegas membuka laci, mengeluarkan sekotak besar krayon dan menarik buku gambar besar yang tergeletak di atas meja belajarnya. Semuanya dibawanya ke ruang tengah tadi.
Dengan cepat dibukanya buku gambar yang kini terhampar di meja kaca di samping sofa tempat ia tadi berdiri mengamati hujan. Sambil duduk bersimpuh, dicomotnya sebatang krayon dan dicoret-coretkannya. Sekali-sekali ia berhenti sejenak untuk memandangi hasil lukisannya. Kadang-kadang ia menjulurkan kakinya yang terasa pegal, lalu mengambil krayon warna lain.
Dua puluh menit berlalu dan krayon-krayon itu bertebaran di meja. Sepertinya hampir kedua puluh empat warna telah terpakai. Tetapi bocah lelaki itu masih belum puas.
Sementara itu, sang ibu yang tengah berada di kamarnya, tekun menghadap layar laptop. Dilihatnya jam duduk di meja riasnya, lalu ditegakkannya cuping telinganya, bagaikan induk serigala yang tengah mencari ke mana gerangan anak-anaknya bermain. Sudah setengah jam dan tak terdengar suara apa pun dari anak tunggalnya yang nyaris tak pernah diam. Dipaksakannya tubuhnya berdiri, meninggalkan teman-teman chattingnya di Facebook, dan berjalan ke luar kamar untuk mengetahui keselamatan anaknya.
Ditengoknya kamar anaknya, kosong. Ia bergegas ke dapur dan tidak ada siapa-siapa, kecuali ketukan air hujan di jendela kaca. Ia berbalik dan mempercepat langkah ke ruang keluarga. Televisi 52 inci membuta dan membisu. Setengah berlari ia menuju ruang perpustakaan dan wajahnya yang tegang mendadak melonggar, dihiasi senyum bangga. Didekatinya anaknya.
“Asyik sekali, sedang menggambar ya, Sayang?” tanyanya.
Tak ada jawab, hanya anggukan kecil. Hanya goresan krayon yang terdengar.
Ia mendekat dan dielusnya rambut anaknya yang ikal gelap. “Bagus sekali gambarmu. Menggambar apa sih?” ia berusaha mengorek imajinasi anaknya.
“Tuhan,” jawab anaknya yang terus tekun mengerjakan masterpiece-nya.
Kaget dan khawatir menyeruak hati sang ibu. “Hmm... tapi kan, Sayang, kan orang-orang tidak ada yang tahu seperti apa Tuhan itu. Ibu juga tidak tahu...”
“Sebentar lagi, Ibu akan tahu,” jawab anaknya polos.
***

Seorang Ibu berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan tesisnya. Sedari pagi, ia tak beranjak dari hadapan komputer di meja kerjanya. Setiap kali putri bungsunya yang masih TK hendak datang mendekati, pengasuhnya melarangnya.
Tiga kali dilarang, ia masih mau dialihkan untuk bermain bersama si mbak. Namun baru semenit bermain, ia sudah bangkit dan berlari ke ruangan ibunya tanpa bisa dicegah lagi. Ia berdiri manis di samping ibunya, yang menoleh, tersenyum dan merangkul putri kesayangannya.
Merasa mendapat peluang, gadis kecil itu segera memberondongkan aneka pertanyaan. Semua dijawab dengan sabar oleh ibunya.
“Ma, manusia diciptakan Tuhan dari debu ya?” ia berusaha mengingat cerita Bu Guru di sekolah.
“Ya, Manis.”
“Aku juga berasal dari debu?” tanyanya lagi sambil meletakkan bonekanya di pangkuan ibunya.
“Ya, karena Nikita juga manusia, sama seperti Mama, Papa, mbak, dan pak Kamil.”
“Terus, kalau kita mati, juga akan kembali jadi debu?”
“Betul. Sekarang Nikita main lagi sama Mbak, ya. Mama mau meneruskan kerja lagi. Nanti kita makan siang bersama, ya.”
Nikita menurut dan berlari ke arah si Mbak yang tadi nyaris mati berdiri karena takut sang juragan akan marah besar. Diajaknya pengasuhnya pergi ke kamarnya. Mereka memasang puzzle bersama di lantai kamar. Nikita memasangnya sambil tengkurap di lantai. Lima-enam keping berhasil dipasangnya. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu di bawah ranjangnya. Didekatinya dan diamatinya dengan seksama selama beberapa detik.
Belum sempat si mbak bertanya, Nikita sudah bangkit dan berlari kembali ke ruang kerja ibunya. Lagi-lagi pengasuhnya tak sanggup mengejarnya.
“Mama,” teriaknya, bahkan sebelum sampai ke dekat ibunya.
Helaan nafas terdengar. Dan wanita cantik itu menoleh. “Ada apa, Cintaku?”
“Ma, sepertinya aku bakalan punya banyak adik deh.”
“Koq bisa, Sayang. Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Tapi, mereka sedang bersama dengan kakek dan nenek. Mungkin sedang bermain. Asyik sekali.”
Mendengar itu, ibunya terperanjat, khawatir kalau-kalau anaknya mampu melihat roh. “Ehm..., Nikita melihat adik dan kakek-nenek di mana?”
“Di bawah tempat tidurku. Banyak debu di sana.” n Dono Baswardono

Hak Cipta ada pada Dono Baswardono. Dilarang mengutip tanpa ijin penulis.(dono.baswardono@gmail.com atau http://www.facebook.com/dono.baswardono)

Monday, August 27, 2007

Cerai Bukan Kiamat

Bercerai: Memahami dan Mengatasinya
Dengan perginya suami/istri, banyak janda/duda ditemani oleh keluarga dan kawan-kawannya yang memberikan dukungan, cinta dan nasehat atau bantuan praktis lainnya. Meski di tengah-tengah para sahabat, Anda masih merasa kesepian. Anda merasa ditinggalkan untuk mengatasi segala sesuatu sendirian, berduka sendirian, dan mengambil keputusan-keputusan penting sendirian. Meski dikitari oleh banyak orang yang mencintai dan mempercayainya yang bisa berbagi duka dengannya, janda/duda ini sendirian mengalami kehilangan pasangan sejiwa dan sahabat terbaiknya; belahan jiwa yang pernah bersamanya selama bertahun-tahun.
Tidak ada standar berapa lama duka itu berlangsung. Ada sebagian janda-duda yang segera bisa hidup kembali seperti biasa berkat dukungan lingkungannya; tapi ada yang perlu waktu bertahun-tahun sebelum mampu menemukan kehidupan bagi dirinya sendiri. Ada pula yang tidak pernah sanggup mengumpulkan serpihan kehidupannya untuk menjalani hidup sendiri; depresi atas kehilangan pasangan bisa sangat merusak dan merampok banyak pikiran dan perasaan sehingga tak ada yang tersisa untuk memulai kehidupan baru.
Mau lama atau sebentar, sulit atau gampang, namun proses berduka atas perceraian itu bersifat universal:

Masa Depan yang Melenceng
Telah ribuan pagi Anda terbangun dengan seseorang yang sangat Anda akrabi ada di samping Anda. Entah itu adalah hari kerja atau akhir pekan, apakah akan menjadi hari yang melelahkan atau membawa kegembiraan, namun Anda sadar kalau esok hari berganti maka orang yang sama masih di samping Anda. Sebuah rutinitas yang membawa kenyamanan sekaligus harapan akan kenormalan. Seperti banyak aspek kehidupan lainnya, kita merasa nyaman jika seluruh indra kita mengenal secara akrab apa yang ada ada di sekitar kita. Pikiran menjadi tenang dan perasaan tidak bergejolak serta harapan-harapan kecil akan terpenuhi.
Akan tetapi, suatu pagi, Anda terbangun dan wajah yang sangat Anda kenal itu tidak ada lagi. Anda pun mulai menjalani duka, mati rasa, dan kehilangan itu meninggalkan jejak berupa syok. Anda sadar kalau pagi-pagi selanjutnya Anda akan sendiri dan mulai kehidupan tanpa orang yang selama ini menjadi tempat kita bergantung. Seseorang yang bersamanya kita merencanakan masa depan, berbagi mimpi dan harapan.
Kesadaran akan hal yang memedihkan itu bisa sangat merusak, tapi bagaimana pun musti dihadapi. Seiring waktu, dengan dukungan kerabat dan kawan, konseling dari ulama atau pendeta, dan mungkin dengan bergabung dalam kelompok-kelompok para janda dan duda, jalan untuk menemukan tujuan hidup menjadi lebih mudah.
Seperti banyak aspek kehidupan kita lainnya, kita cenderung menemukan kenyamanan dan ketenangan melalui interaksi dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa. Kontak dengan kawan-kawan sesama janda/duda atau yang masih lajang sangat baik pada tahap awal duka. Mereka sudah pernah melewati jalan yang Anda sendiri baru saja menapakinya. Anda tidak sendirian dalam kepedihan dan kebingungan.

Pertempuran Kesepian
Mungkin ini peperangan yang paling keras. Lubuk hati banyak janda/duda pasti akan mengakuinya. Meski dulu rumah Anda sangat sepi, namun kesepian saat bersendiri dan berdua sangat berbeda. Mungkin itu adalah kesepian yang pertama kali Anda rasakan sejak dewasa. Di rumah sendirian, menikmati sore hari yang tenang tanpa gangguan merupakan hal yang disukai; tapi di rumah sendirian pada sore hari dengan kesadaran bahwa pintu depan tidak akan pernah diketuk dan dibuka oleh orang yang Anda cintai sungguh tidak tertahankan.
Bahkan suara koran sore yang dilempar ke depan pintu bisa terasa menenangkan; sama dengan suara gemerisik sandal suami/istri yang masuk ke dalam kamar Anda. Itu adalah hal-hal kecil menenangkan yang selama bertahun-tahun kita anggap ada begitu saja. Begitu sendirian, keheningan akibat hilangnya suara-suara yang kita akrabi itu bisa memekakkan. Ketika anak-anka sudah besar dan pergi membangun rumah tangganya sendiri, ada kesepian yang tidak kita alami selama puluhan tahun; tetapi masih ada orang lain tempat kita berbagai kedamaian itu. Akan tetapi jika pasangan meninggal, kita sendirian. Kita hanya mendengar langkah kaki kita sendiri, suara kita sendiri. Setelah bertahun-tahun bersama, kita tak lagi mendengar kata-kata menenangkan dari pasangan, yang sudah menjadi kebiasaan.
Sekali lagi, kita bisa mendapat dukungan dari teman-teman dan keluarga, dan dari mereka yang sama-sama berjalan sendirian. Acap kali, harga diri kita tak membolehkan kita untuk menelpon mereka yang kadang-kadang sangat bergembira menerima kunjungan kita. Mereka adalah orang-orang yang selama ini sudah kita kenal dan sayangi, dan yang juga menyayangi dan menyukai kita. Meski ada satu-dua orang yang tak tahu apa yang harus dan jangan dikatakan, namun mayoritas kawan dan keluarga tahu apa yang musti dilakukan.
Satu jam kunjungan pada Jumat atau Sabtu malam yang sepi bisa menciptakan keajaiban-keajaiban. Tidak ada gunanya duduk sendiri kesepian jika ada banyak kawan dan keluarga tempat kita berbagi wantu dan kenangan indah.
Kalau Anda merasa akhir pekan terlalu berat untuk ditanggung, cobalah merencanakan satu kegiatan untuk waktu tersebut. Anda bisa melewatkannya dengan menonton film bersama seorang teman, menelpon interlokal seorang sepupu kesayangan yang jarang bertemu, atau melakukan kerja sukarela. Jika ana punya anak dan mereka bisa, Minggu malam bisa dilewatkan dengan makan bersama makanan kegemaran keluarga.
Dalam usaha kita menaklukkan kesepian, sering kita harus membuat rencana sendiri, daripada menerima undangan orang lain. Lebih bijak kalau kita menerima kenyataan ini. Tak ada gunanya membiarkan ego Anda berdiri tegak sementara Anda sendiri sangat membutuhkan kenyamanan.

Hari-hari Libur
Sejak kita kecil, hari libur adalah saat bagi keluarga dan teman-teman untuk berkumpul merasakan kenyamanan dengan berbagi saat-saat indah itu dengan mereka yang kita cintai. Kenangan membahagiakan yang menempel pada setiap hari libur itu sangat banyak. Akan tetapi, setelah kita kehilangan pasangan, hari-hari libur itu bukan lagi waktu yang menyenangkan, malah bisa menjadi horor yang membuat hati terasa kosong dan depresi.
Akan tetapi banyak janda/duda menyatakan bahwa berwisata pendek selama hari-hari libur bisa sedikit membuang rasa sakit dan kesepian yang menempel pada waktu-waktu istimewa tersebut. Anda bisa menghabiskan hari-hari libur itu bersama anak-anak atau tinggal bersama dengan sahabat-sahabat. Anda memerlukan orang lain untuk menemani Anda melewatkan hari libur yang terasa berat. Bersama-sama dengan orang-orang yang peduli pada kita akan sedikit meringankan beban kita.

Mencari Bantuan
Kita sungguh beruntung hidup dalam masa yang penuh sumber kasih sayang ini. Dulu, sungguh sangat sulit menemukan kelompok pendukung apa pun, atau bahkan informasi, untuk para janda/duda yang membutuhkan.
Kini di toko buku – atau perpustkaan umum – cukup banyak buku yang ditujukan untuk para janda/duda. Buku yang bisa menjawab banyak pertanyaan dan persoalan yang menyertai perubahan hidup yang tak terduga-duga ini. Banyak buku petunjuk itu yang memberikan sukungan dari para wanita/pria yang juga mengalami kebingungan dan kesedihan karena ditinggalkan pasangan yang bertahun-tahun menemani. Kisah-kisah mereka sering dituturkan secara terbuka, dengan kata-kata mereka sendiri, dan memberikan nasehat-nasehat masuk akal yang penting untuk belajar mengatasi persoalan Anda sendiri.
Masjid, gereja, kelenteng atau tempat ibadah Anda lainnya juga bisa menjadi oasis. Anda bisa menemukan kelompok pengajian atau kebaktian yang – di Indonesia, secara tidak langsung – berguna untuk para janda/duda. Banyak gereja punya program yang membantu mereka yang membutuhkan untuk saling berhubungan. Bahkan jika anda bukan anggota tempat ibadah itu, Anda bisa menemukan kelompok-kelompok yang sangat membantu. Mereka akan sangat senang memberikan nama-nama relawan yang tulus memberikan waktu dan tenaganya untuk membantu mereka yang menghadapi beban berat.
Ada sebuah organisasi internasional bernama Oasis yang melayani mereka yang berumur 55 tahun ke atas. Mereka punya ribuan relawan, ratusan kursus dan seminar dengan banyak pokok masalah, termasuk diskusi tentang segala aspek menjanda/duda.
Dengan mengambil bagian dalam organisasi semacam itu, Anda sudah mengambil langkah pertama dalam menciptakan kehidupan baru bagi anda sendiri. Banyak jalan baru telah Anda bangun jika anda punya teman-teman baru yang punya banyak kesamaan.
Hidup memang tidak sama lagi setelah kita kehilangan pasangan, tapi hidup itu masih bisa dinikmati dan masih penuh warisan tak ternilai. Dengan waktu dan sahabat, kita bisa mengukir hidup baru, bukan hanya yang memuaskan, tapi juga membahagiakan. DB

Wednesday, August 15, 2007

APA SIH KEJANTANAN ITU?

Bahkan Pacarku Hamidah Lebih Jantan daripada Aku
(Apa Aku Harus Berdarah untuk Membuktikan Kejantananku?)

Aku tak sabar untuk merendam tubuh telanjangku yang tanpa bulu ke dalam kolam berisikan cairan testosteron. Aku merasa kekurangan testosteron sejak masih di Taman Kanak-kanak, ketika dikelilingi oleh teman-teman wanita, aku lebih suka memelototi koleksi stikerku, mendengarkan koleksi piringan hitam Koes Plus milik kakak perempuanku – daripada Rollies milik kakak laki-laki ku, memasak kue dengan oven mainan pemberian ibu, dan mengatur koleksi hewan kayuku. Bahkan Si Siti Kepang – tetangga teman mainku di kampung Petemon, Surabaya – punya masa kanak-kanak yang lebih maskulin daripada diriku.
Tapi aku perlu tahu seberapa jantan diriku, persisnya. Maka aku pergi ke dokter untuk memeriksakan berapa jumlah testosteronku. Sayang sekali, dokterku tidak bisa melakukan pemeriksaan itu lewat ludah; ia perlu sampel darah. Itu membuatku berfikir berulang-ulang untuk membatalkan bertemu dokterku. Tapi akhirnya aku berani menemui dokter. Dalam 48 jam aku akan tahu seberapa laki-laki diriku ini.
Sejak remaja, aku mengkompensasi kekurangjantananku dengan menonton film-film porno, menulis kolom soal seks di majalah, dan kemudian menguji nyali dengan jual-beli saham.
Tapi jauh di dasar hatiku aku tahu kalau T (testosteron) ku malu-malu. Aku tidak bisa meneriaki pengemudi lain, menaikkan suaraku, menggamit seorang perempuan di bar atau, apalagi, menumbuhkan cambang dan kumis. Semua wiski, tak peduli seberapa mahalnya, terasa seperti membakar lidah. Tapi jauh di dalam, aku juga ingin tidur dengan segala macam wanita, menendang atau memukul orang, main sepakbola atau menerbitkan album musik rock.
Seperti kulihat sendiri, aku nyaris tak punya pilihan kecuali bergantung pada penemuan baru – tidak terlalu baru di Inggris – berupa gel testosteron. Aku bisa menyimpannya di saku jaketku kalau aku menghadapi situasi darurat, bersama dengan gel untuk membersihkan tangan sebelum makan pecel lele di kaki lima. Aku malah punya gagasan untuk memasarkan gel testosteron ini dalam kemasan praktis semacam pertolongan pertama bagi mereka yang membutuhkan.
Sambil menunggu hasil laboratorium keluar dua hari lagi, karena merasa tidak nyaman, tepatnya tidak aman, aku mengunjungi lagi dokterku, yang perawakannya lebih mirip dengan Ade Rai daripada gurubesarku yang memberikan kuliah psikiatri dulu. “Kamu terlalu ringan,” ia memelesetkan kata kurus dan sekaligus tidak jantan. Ia lalu menyarankan agar aku memakai AndroGel. “Otot-otot bisepmu akan membesar, bulu tubuh akan mulai tumbuh, dan... ekstra agresif.” Entah, kenapa ia berhenti sejenak sebelum menandaskan kata agresif itu. Mungkin di kepalanya, aku ini sangat submisif. (Kata kawanku yang profesor ilmu politik, itu akibat kita terlalu lama dijajah sehingga menjadi bangsa kuli. Yah, menurutku sih, yang berfikiran kalau kita ini bangsa kuli ya karena dirinya tak bisa memerdekakan pikirannya sendiri.)
Ketika kutanya apa aku bisa mendapatkan testosteron itu tanpa resep, dia menyarankan agar aku sering makan sop kambing Bang Kumis, terutama pesan ‘rudal’nya alias penis dan scrotum kambing. Ia meyakini kalau banyak testosteron di dalamnya. “Itu makanan yang paling logis untuk disantap,” tegasnya. Karena aku lebih suka makanan Italia, maka aku memikirkannya untuk disajikan dalam pasta dengan saus tomat ringan yang bisa kupasarkan dengan nama “testosteroni.”
Sepulang dari dokter, aku masih tetap cemas, maka kutelponlah mantan pacarku, dengan harapan ia bisa membuatku merasa lebih enakan. “Kupikir, kadar testosteronmu memang menyeramkan,” seperti dokter, ia juga jeda sebentar, “terlalu sedikit.” Ia lalu menjelaskan, “kamu takut pada anjing, kamu masih menyimpan oven mainanmu, dan kamu tak pernah bertengkar apalagi berkelahi.” Sekarang aku tahu alasan-alasan tambahan mengapa kami putus hubungan.
Setelah dua hari yang penuh neurosis, aku datang ke dokter untuk membaca hasil laboratorium. Di kertas tertulis normal dengan rentang nilai dari 260 sampai 1000. Aku memaksa kepada dokter, berapa angka persisnya, ia menjawab 302. Ketika aku mulai ketakutan karena berada di dasar 10% terbawah, ia sekali lagi menandaskan kalau aku sama sekali normal. Yah, normal dalam hal aku tak punya payudara.
Salah satu sahabat wanitaku mencoba menenangkanku. Ia mengatakan kalau wanita mungkin senang bahkan merasa ekstasi jika sesekali berhubungan dengan pria bertestoteron tinggi, tapi mereka lebih suka hidup mapan dalam jangka panjang dengan pria yang secara hormonal seimbang. Tapi pernyataannya tetap tidak membuatku merasa lebih baik.
Kini yang kupikirkan malah, berkurang satu alasanku kalau sampai aku menyeleweng. Kecuali kalau aku benar-benar memakai gel testosteron. db

KOMPLEKS OEDIPUS

Kompleks Oedipus? Atau Sekadar Mendamba Kesabaran Ibu?

Ibu adalah sosok yang dipuja oleh anaknya, juga anak lelaki. Dan ketika anak lelaki ini sudah dewasa dan menikah, adakah ia menginginkan istrinya seperti ibunya? Paling tidak, sifat keibuan apa saja yang diinginkannya ada di dalam diri istrinya? Dan mengapa?

Salah satu “doa” yang paling sering dipanjatkan para suami adalah agar istrinya memiliki sifat sabar seperti ibunya dulu. Bayangkan, betapa enaknya, apa pun yang dilakukan, istri tak pernah marah, tak pernah ngomel, tak pernah sinis. Bahkan kalau bisa, ia ingin seluruh sifat-sifat ibunya ada pada istrinya.
Adakah “keinginan” itu patut untuk dikabulkan, dipenuhi oleh istri? Kebanyakan layak untuk dijawab ya, dan hanya minoritas pria yang memperbudak istri saja yang harus dijawab tidak. Ini karena kebanyakan pria sangat mudah jatuh cinta, dan kalau sudah cinta, kepalanya ada di lututnya. Bahkan riset membuktikan bahwa pria-pria jenis ini mengalami tahap pertama cinta – yaitu debaran jantung, meningkatnya adrenalin, daya tarik seksual yang kuat, serta keinginan untuk menjadi kekasih sepanjang hidup – jauh lebih dini di awal hubungan dibandingkan perempuan. Ringkasnya, kalau suami memang sangat mencintai istrinya, tentu wajar saja kalau istri kemudian bersifat sabar, penuh pengertian dan memanjakan suaminya. Bukan berarti istri mencontoh atau meniru sifat-sifat ibu suaminya.
Di luar sisi balas-berbalas perlakuan itu, sebenarnya mengapa suami mengharapkan sifat-sifat ibunya ada pada istrinya? Karena sekali pria mencemplungkan dirinya ke dalam perkawinan, ia akan melihat masa depan sebagai situasi yang santai dan aman karena ia merasa rumah dan kenyamanannya telah dijamin oleh keberadaan istrinya. Maka, ia merasa bisa menumpahkan segala daya upayanya untuk menggeluti bagian terpenting hidupnya: karir.
Jadi para suami ini sama sekali bukanlah penderita kompleks Oedipal, meski mereka ingin dicintai, diinginkan, dirindukan, dirawat, dimanjakan, dan dibuat merasa bahwa apa pun yang dilakukannya di luar rumah selalu dipuji, dipuja dan dihargai karena ia melakukannya demi orang-orang yang dicintainya: istri dan anak-anaknya. Sayangnya, seringkali mereka malah merasa bahwa yang didapatnya adalah istri yang malah berhenti mencintai hal-hal positif yang ada pada dirinya, dan malah mulai mengritik semua hal negatif.
Bukan melulu soal komitmen pada perkawinan saja yang membuat pria mendambakan sifat-sifat ibunya, tetapi juga karena para lelaki ini sedang menghindari hal yang paling dibencinya: kegagalan. Lelaki paling tidak bisa mengalami kegagalan; hidup bagi mereka seharusnya adalah serangkaian kesuksesan. Karena itu mereka juga benci akan kritik dan rasa bersalah, karena keduanya menandai adanya kegagalan. Dan satu-satunya wanita yang selalu menganggap setiap tindakannya adalah bagian dari upaya menuju kesuksesan adalah ibunya. Ibu yang selalu memberikan rasa aman, puas hati dan kemahakuasaan atau rasa hebat pada dirinya.
Sayangnya, karena situasi kesetaraan gender dan pelbagai kemajuan lainnya, pria jaman sekarang menjadi serumit wanita. Pelbagai keinginan seperti dimanja dan disayang-sayang itu dipendamnya belaka. Mereka berharap istrinya mengetahui sendiri keinginannya itu, seperti ibunya dulu yang “koq selalu tahu keinginanku ya?” Dan kalau pun ia berani mengutarakan keinginan itu, biasanya dengan cara yang amat kikuk dan keliru sehingga malah berakhir dalam pertengkaran yang ditandai dengan kalimat istri, “Kamu selalu membanding-bandingkan aku dengan ibumu. Sudah sana, kawini saja ibumu.” Dan air mata.
Air mata adalah senjata yang paling ditakuti para suami. Karena air mata itu selalu mengingatkan mereka akan kesedihan ibunya; bukan hanya terhadap kekejaman ayahnya, tetapi juga terhadap kenakalan-kenakalannya. Ia akan selalu ingat betapa ia tidak peduli jika ibunya marah, bahkan seribu kali. Tetapi ia selalu luluh jika ibu sudah menangis; apalagi jika menangisnya sambil menyendiri, sambil bekerja, menangis dalam diam. Begitu pula jika istri menangis, pilihan bagi para suami cuma ada dua. Ia harus pergi dan melampiaskan kemarahan atau kejengkelannya dalam cara lain atau mengibarkan bendera putih. “Hanya hewan buas dan liar yang tak bisa dikalahkan oleh wanita dengan air mata di pipinya.”
Sesungguhnya bukan soal air mata itu sendiri yang ditakuti pria, tetapi air mata ini merupakan simbol dari perubahan yang diusahakan oleh wanita terhadap dirinya. Karena lelaki adalah makhluk yang paling benci terhadap perubahan. Mereka maunya “tegak lurus dengan langit” lalu berjalan lurus ke depan menerabas semua rintangan. Tetapi wanita, apalagi ibunya, selalu bisa membelokkannya. Dulu, ia ingin main kelereng dan ibu melarangnya, sekarang ia ingin menjadi pelukis tapi istri menyuruh terus bekerja di perusahaan ekspedisi.
Kalau perubahan itu sedemikian banyak, wajar jika banyak pria beristri merasa hidupnya adalah sebuah ekspedisi dimana kaptennya adalah istrinya. Dan ia merasa sebagai anak buah kapal yang tidak berani melakukan pemberontakan. Dalam hidup terpenjara seperti itu, wajar jika ia merindukan (sifat-sifat) ibunya. Ringkasnya, seekstrim apa pun yang dialami oleh suami, positif atau negatif, atau hidup yang biasa-biasa saja, selalu terbersit keinginan untuk hidup dalam selimut sifat-sifat ibunya.
Simpulannya, kalau suami mendambakan kesabaran istri, menghendaki istri selalu mau mengerti apa yang dilakukannya, bahkan ingin dimanjakan oleh hal-hal kecil yang dilakukan istrinya seperti dibuatkan kopi sepulang kerja atau dipijati punggungnya, bukan berarti para suami ini adalah makhluk-makhluk patriarkis yang sedang menjajah istrinya. Malah sebaliknya, itu hanyalah sebuah cerminan dari kelemahan pria. Betapa suami selalu membutuhkan istrinya – padahal pria paling anti menunjukkan kebutuhan karena membutuhkan dianggapnya tanda kelemahan. Betapa para suami ini terus menerus membutuhkan rasa aman dan nyaman dalam pelukan dan curahan sayang dari istrinya. Betapa para suami ini membutuhkan rasa bangga diri dan kepuasan atas segala kehebatan dirinya yang hanya bisa diperolehnya dari istrinya.
Maka, atas keinginan suami menjadikan kita, para istri, seperti ibunya, tak perlu serta merta dipandang sebagai meniadakan eksistensi kita, sebagai tindakan menyepelekan diri kita, sebagai penjajahan dan pelanggaran hak asasi. Kita juga bisa melihat kebutuhan itu sebagai hal yang malah meninggikan posisi – dan “daya tawar” kita. Semuanya terpulang pada diri kita sendiri. db