Saya sedang menonton CNN ketika muncul stop press tentang pemboman dua hotel di Mega Kuningan, Jakarta. Saya jadi teringat akan kejadian beberapa bulan sebelumnya, pemboman hotel di kota Mumbai (d/h Bombay) India. Pelaku pemboman di Jakarta, sampai tulisan ini kelar, belum tertangkap. Tetapi, di jejaring Facebook, juga komentar-komentar yang mengekor rentetan berita di koran-koran online, kebanyakan adalah sumpah serapah dan ungkapan dendam pada si pelaku pemboman.
Mari kita berdoa bersama agar keluarga korban memperoleh kekuatan hati untuk ikhlas dan tidak diguyur dendam, serta para pelakunya ikhlas menjalani ‘proses’ yang tengah dirancang Tuhan untuk mereka.
***
Beberapa tahun lalu, salah seorang murid saya diserang remaja lain di depan sebuah mal di Bandung. Remaja itu melompat dari atas pagar dan mendarat tepat di punggung murid saya yang akhirnya terkapar di jalan. Setelah mengalami koma selama dua hari, ia berangsur-angsur pulih. Namun sampai kini parut di wajahnya dan tremor yang sering menyerangnya bagaikan pengingat akan peristiwa traumatis itu.
Remaja penyerang itu dengan mudah tertangkap tangan, digelandang ke kantor polisi. Dan di sanalah saya bertemu dengan ayah angkatnya – yang kebetulan adalah pimpinan sebuah aliran bela diri baru. “Apa yang dilakukan anak saya memang menyeramkan, tetapi saya belum selesai mendidiknya. Saya belum selesai mengasuhnya.” Begitulah pengakuan sang bapak angkat.
Tuhan akan mengatakan hal yang sama mengenai orang-orang yang menyerang Anda. “Apa yang dilakukannya memang tak masuk akal, tak bisa diterima, dan tak termaafkan. Tetapi Aku belum selesai dengannya.”
Musuh-musuh Anda masih dalam proses terbentuk di tangan Tuhan. Tuhan belum (tepatnya: tidak pernah) menyerah atas diri mereka. Mereka mungkin sudah keluar dari kehendak Tuhan, tetapi bukan berarti mereka sudah di luar jangkauan Tuhan. Anda sungguh memuliakan Tuhan jika memandang musuh-musuh Anda bukan sebagai produk gagal, melainkan sebagai projek Tuhan yang masih tengah berjalan.
Tuhan menduduki satu-satunya kursi di pengadilan surga. Ia yang mengenakan jubah hakim dan menolak untuk berbagi palu. Karena itulah Paulus menulis, “Jangan nekad untuk membalas dendam. Balas dendam bukan hal yang perlu kau lakukan. ‘Akulah yang akan menghakimi,’ tegas Tuhan. ‘Aku yang mengurus semuanya.’” (Roma 12:19).
Balas dendam hanya mengusir Tuhan dari rumus. Anda hendak menyisihkan dan menggantikan tempat Tuhan. “Aku tidak yakin Engkau bisa menangani yang satu ini, Tuhan. Kamu sepertinya menghukum terlalu ringan, juga terlalu pelahan. Aku akan mengambil alih masalah ini ke dalam tanganku sendiri.”
Aapakah itu yang ingin Anda katakan kepada Tuhan? Yesus tidak. Tidak seorang pun yang punya pandangan gamblang tentang benar dan salah daripada Anak Tuhan yang sempurna. Meskipun begitu, “Ketika Ia menderita, Ia sama sekali tidak mengancam, tetapi menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang mengadili dengan adil.” (1 Petrus 2:23)
Hanya Tuhan yang bisa menilai dengan pertimbangan yang akurat. Kita menerapkan hukuman terlalu ringan atau terlalu berat. Tuhan memberikan keadilan sempurna. ‘Balas dendam’ adalah pekerjaanNya. Serahkan musuh-musuh Anda ke dalam tangan Tuhan.
Anda bisa membenci apa yang dilakukan seseorang, tanpa harus membiarkan kebencian itu merusak diri Anda sendiri. Memaafkan bukanlah melepaskan.
Memaafkan juga bukanlah kepura-puraan. Daud tidak menutupi kesalahan atau menyisihkan dosa Saul. Ia mengatasinya secara langsung. Ia tidak menghindari persoalannya, tetapi ia memang menghindari Saul.
Lakukan hal yang sama. Berikan pengampunan, tetapi jika dibutuhkan, ambillah jarak. Anda bisa memaafkan suami yang suka memukul, tanpa harus hidup bersama dengannya. Bersegeralah memaafkan pendeta yang tak bermoral, namun berlambatlah memberinya kesempatan ke atas mimbar lagi. Masyarakat bisa menyalurkan ampunan dan penjara pada saat yang sama. Beri kesempatan kedua kepada penista anak, tetapi jauhkan mereka dari taman bermain.
Memaafkan bukanlah kebodohan.
Memaafkan, pada intinya, adalah memilih untuk melihat musuh anda dengan sepasang mata yang berbeda. Anda tidak membebaskannya, menyokongnya, atau merangkulnya. Anda hanya mengarahkan segala pikiran tentang dirinya melalui surga.Anda melihat musuh Anda sebagai anak Tuhan dan balas dendam sebagai karya Tuhan.
Beranikah kita meminta pengampunan Tuhan kalau kita menolak memberikannya? Ini sungguh persoalan besar di dalam Alkitab. Yesus keras hati terhadap para pendosa yang menolak memaafkan para pendosa lainnya. Pada akhirnya, kita memaafkan karena kita telah diampuni. DB

